Sudah lama sekali tidak posting tulisan.
Assalamu'alaykum teman, smoga senantiasa sehat yaa :)
kali ini saya ingin berbicara tentang apa yang kita benci.
apakah ada dari teman-teman yang membenci sesuatu secara berlebihan?
Yaa, saya sangat membenci yang namanya bawang merah, baik dalam bentuk mentah ataupun matang, baunya tidak hilang-hilang meskipun telah cuci tangan berkali-kali, bikin pedes mata lagi. saya tidak pernah mau masak karena harus pegang bawang merah dan karena tidak pernah diminta untuk masak :)
Sampai akhirnya, saya tidak tahu gimana ceritanya, mulanya, -mungkin ini gara-gara mb kost saya Mb Fatimah Arikhasari, tanggungjawab mb :D- saya jadi suka masak. yah, mau ga mau saya harus menggunakan sesuatu yang saya benci, karena hampir semua masakan butuh bawang merah bukan.
Yayaa, akhirnya saya harus berahabat dengan si bawang merah itu, awalnya, saya pernah mencari cara bagaimana agar bau bawang merah itu tidak tertinggal di tangan setelah memasak. ya ada caranya ternyata, dan cukup simpel, cukup gunakan sedikit garam dan usap-usapkan ke tangan, akan sedikit berkurang baunya dibandingkan hanya dicuci menggunakan sabun. tapi saya bukan orang yang telaten untuk setiap kali memasak kemudian mengusap-usap tangan saya dengan garam. Ya, untuk bumbu dapur, garam memang bukan bahan yg cukup mahal, tapi karena selalu diperlukan jadi terasa lebih boros ternyata ketika menggunakan garam untu cuci tangan.
Lama-lama, saya meninggalkan kebiasaan mencuci tangan dengan garam tersebut, saya enjoy menjalani hobi baru saya dan kepuasan-kepuasan lain ketika selesai memasak, lebih hemat, lebih enak (kadang) dan yang pastinya lebih capek, hhe
Mungkin memang seperti ini ya fitrahnya, ap yang kita benci adalah sesuatu yang kita butuhkan.
Loh tapi gimana kalau yang kita benci bukan sesuatu yang kita butuhkan?
Pernah teman saya bercerita, seseorang yang sangat tidak suka timun , menambahkan potongan-potongan kecil ketimun di es krim stowberry kesukaannya. dan hasilnya, ada sensasi lain di es krim kesukaannya, sesuatu yang renyah dan menambah kelezatan menikmati es krim strowberrynya. ketimun yang ia benci sama sekali tidak mempengaruhi rasa es krim kesukaannya.
Kita akan dapat menghilangkan kebencian kita ketika kita mampu memarutnya hingga kecil, menyandingkannya dengan sesuatu yang kita sukai. Hati yang bahagia, hati yang senantiasa merasakan kenikmatan, adalah
hati yang bisa mereduksi kebencian, kesusahan, hingga sekecil-kecilnya. begitu kata teman saya, Mb Hanifati Nur S. (terimakasih mb :)
“Boleh jadi apa yang kamu benci baik bagimu. Allah Mengetahui sedangkan kamu tak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216)
Smoga bermanfaat :)
Wassalamu'alaykum Wr Wb